Membangun Umat, Merajut Peradaban
Al Ittihadiyah hadir bukan hanya sebagai organisasi, tapi sebagai gerakan kebangkitan umat yang berpijak pada tiga pilar utama: Da’wah dan Sosial (اجْتِمَاعِيَّة), Ekonomi (اِقْتِصَادِيَّةٌ), Kaderisasi dan Pendidikan (تربية). Tiga kekuatan inilah yang menjadi jantung perjuangan kami, menyentuh akal, menyapa hati, dan menggerakkan tangan-tangan untuk membangun perubahan nyata.
I. Pilar Dakwah dan Sosial (اجْتِمَاعِيَّة)
Al-Ittihadiyah hadir di tengah masyarakat sebagai pelita di malam yang gelap. Pilar Dakwah dan Sosial adalah wujud nyata cinta kami kepada sesama. Dengan Masjid sebagai Episentrum Peradaban sebagaimana yang dilakukan oleh para pendahulu.
“Kita tidak sekedar menolong Manusia, kita membangun Peradaban Manusia.”
1. Dakwah adalah Misi Ilahiyah
Banyak manusia kehilangan arah hidup karena tidak tahu untuk apa mereka hidup. Maka lahirlah krisis identitas, depresi, dan hedonisme. Dakwah bertugas menyadarkan umat akan tujuan hakiki hidup mereka — bukan sekadar karier, harta, atau status, tapi mengabdi kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Tugas Da’i bukan sekadar memberi tahu hukum, tapi menghubungkan manusia dengan makna keberadaannya. Dakwah tidak boleh hanya berhenti di masjid/musala atau majelis taklim, ia harus masuk ke ranah sosial, ekonomi, dan budaya.
Seluruh dakwah para nabi adalah dalam rangka mengajak manusia untuk kembali beribadah kepada Allah. Maka da’i hari ini mewarisi misi yang sama: mengubah masyarakat dari lalai menjadi sadar, dari maksiat menjadi taat, dari duniawi menjadi ilahi.
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzāriyāt: 56)
2. Umat Islam Garda terdepan Kemanusiaan
Umat Islam disebut “umat terbaik” bukan karena klaim status, tetapi karena kontribusinya kepada manusia. mencerminkan tanggung jawab sosial universal: peduli kepada tetangga, fakir miskin, kaum lemah, korban bencana, bahkan lingkungan hidup.
Amar ma’ruf tidak terbatas pada dakwah verbal atau ceramah semata, tetapi mencakup mendirikan sekolah dan lembaga sosial,menyediakan layanan kesehatan gratis serta advokasi terhadap kebijakan yang adil. Nahi Munkar berarti perlawanan terhadap kemungkaran yang bukan hanya pada perilaku individual, tapi juga sosial. Melawan ketidakadilan ekonomi dan korupsi, eksploitasi anak dan kaum dhuafa, perusakan lingkungan, hoaks dan serta upaya pemecah-belahan umat.
Dakwah sosial bukan sekadar aktivisme kosong. Ia ditopang oleh iman dan kesadaran tauhid, yang menjadikan seluruh aksi sosial bernilai ibadah. Identitas ideal umat Islam: bukan sekadar komunitas yang saleh secara individual, tetapi umat yang aktif membangun peradaban, mengajak kepada kebaikan (ma’ruf), mencegah kemungkaran, dan menegakkan iman.
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena) kamu menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali ‘Imran: 110)
3. Utamakan Menolong yang Berhijrah
Hijrah dalam konteks sosial hari ini bisa dimaknai sebagai Perpindahan dari keterpurukan menuju keberdayaan. Perjuangan kaum dhuafa yang ingin berubah secara spiritual, ekonomi, dan sosial.
Seseorang yang hijrah (dalam arti spiritual, sosial, atau fisik) telah:
- Meninggalkan kenyamanan.
- Siap Menanggung risiko.
- Menunjukkan kesungguhan untuk berubah dan berjuang.
Maka Islam mengajarkan keadilan sosial bahwa orang yang telah berkorban lebih layak mendapat prioritas bantuan dan dukungan. Bukan yang penting tersalurkan, tetapi bantuan sosial betul-betul dikawal kepada para dhuafa yang siap memperjuangkan nilai-nilai Islam, siap berhijrah.
“..Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah..” (Al-Anfal:72)
4. Membangun Masjid Progresif
Pada masa Nabi Muhammad SAW, masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga tempat musyawarah, pengambilan kebijakan, pusat pendidikan dan pengkaderan, posko logistik, dan bantuan sosial.
Memakmurkan Masjid secara fungsional dan spiritual, menjadikan masjid hidup dan berdampak bagi umat. Dalam mengimplementasikan hal ini, Masjid yang Ideal secara fungsi haruslah memiliki empat kompartemen:
- Ideologi: Beriman kepada Allah dan hari akhir.
- Leadership: Melatih masyarakat untuk berdinamika secara terorganisir melalui Shalat Berjamaah
- Ekonomi: Bagaimana Masjid menjadi tempat penghimpunan sekaligus penyaluran dana keumatan demi menjaga eksistensi nilai Islam terus terjaga pada rakyat.
- Kaderisasi: Kondisi Ideal Masjid tidak bisa berhenti pada satu masa saja, ia harus terus mengalami regenerasi sehingga menjadi tonggak dalam tegaknya rahmatan lil alamin pada setiap zaman. Maka Kaderisasi adalah hal yang tidak boleh luput dari Masjid yang Ideal.
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. At-Taubah: 18)
II. Pilar Ekonomi (اِقْتِصَادِيَّةٌ)
Kemiskinan bukan hanya soal materi, tapi sebuah sistem yang membelenggu. Karena itu, Pilar Ekonomi menjadi salah satu Pilar Al-Ittihadiyah yang strategis.
Melalui pemberdayaan UMKM, Koperasi Masjid, Pembinaan dan Pelatihan Baitul Tamwil, kami mengubah tangan-tangan yang dulunya menengadah menjadi tangan-tangan yang memberi.
“Mengubah Dhuafa menjadi Owner di Negerinya Sendiri.”
1. Shadaqah melawan Kapitalisme (Riba)
Kapitalisme membangun ilusi pada harta riba yang terlihat bertambah secara kasat mata, padahal hakikatnya ia tidak memiliki berkah dan justru menjadi penyebab kerusakan dalam sistem ekonomi dan sosial. Riba menciptakan ketimpangan, menindas yang lemah, dan menumbuhkan kerakusan.
Sistem ekonomi berbasis riba bertentangan dengan prinsip keadilan dan kasih sayang yang diajarkan Islam. Allah menjanjikan bahwa sedekah, walau secara jumlah tampak mengurangi harta, justru diberkahi dan dilipatgandakan. Menjadi sebab datangnya rezeki tak terduga. Membersihkan jiwa dari sifat kikir dan tamak. Ini juga mendorong siklus ekonomi yang sehat, di mana yang kuat membantu yang lemah, dan menciptakan solidaritas sosial yang kokoh.
Riba bukan hanya isu ekonomi, tapi juga masalah iman dan moralitas. Allah menolak sistem yang menindas dan menyuburkan sistem berbagi yang adil. Meninggalkan praktik Riba dan membudayakan sedekah sebagai bagian dari kehidupan ekonomi dan sosial yang penuh berkah adalah titah tuhan yang tidak terbantahkan.
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)
2. Menjadikan Dhuafa sebagai Pemilik (Owner)
Allah tidak akan membiarkan kezaliman berlangsung selamanya. Kaum mustadh‘afin/Dhuafa (tertindas) adalah pihak yang berada dalam potensi perubahan besar jika mereka bersabar dan berjuang. Mereka akan menjadi teladan moral dan pemimpin peradaban. Allah menjanjikan kaum Dhuafa untuk mewarisi bumi, warisan yang dimaksud adalah sumberdaya, pengaruh, dan kendali atas bumi setelah sebelumnya dikuasai oleh para penindas. Kendali Geografis secara aspek fisik maupun sosial.
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan menjadikan mereka pemimpin-pemimpin, serta menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (QS. Al-Qashash: 5)
3. Berjamaah dalam Perekonomian (Ekonomi Kooperatif)
Ekonomi kooperatif adalah sistem ekonomi yang berbasis solidaritas, kerja sama, pemerataan manfaat, dan pemberdayaan anggota — dan ini sangat sejalan dengan prinsip-prinsip sosial Islam.
Jika umat Islam tidak membangun sistem ekonomi saling tolong-menolong, maka akan tunduk pada sistem kapitalistik global yang eksploitatif. Mereka (Kaum Kafir) membangun sistem jaringan: industri, bank, pasar, hingga budaya.
Umat Islam pun harus memiliki jaringan ekonomi sendiri — saling mendukung antar produsen, konsumen, distributor, dan lembaga keuangan Islam. Koperasi Syariah, Baitul Maal dan Baitul Tamwil, serta Ekonomi berbasis Jamaah merupakan Implementasi dari perlawanan terhadap sistem ekonomi yang eksploitatif dan individualistik melahirkan fitnah: ketimpangan, kemiskinan, utang, dan ketergantungan pada sistem riba.
“Orang-orang kafir itu sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Jika kamu (kaum Muslimin) tidak melakukannya (saling menolong satu sama lain), niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (QS. Al-Anfal: 73)
4. Zakat sebagai Instrumen Ekonomi Strategis
Zakat adalah mekanisme konkret untuk mendistribusikan kekayaan dari kelompok kaya kepada kelompok lemah. Tujuannya bukan hanya membantu, tetapi memberdayakan secara ekonomi agar tidak terjadi penumpukan harta pada segelintir orang.
Delapan asnaf yang disebutkan mencerminkan beragam bentuk kebutuhan dan masalah sosial-ekonomi yang harus diintervensi. Jika ditinjau ulang secara fungsi maka delapan asnaf Zakat dapat diklasifikasikan menjadi dua: Aspek Sosial dan Operasional.
Aspek Sosial meliputi:
Fakir: Menjadi bantalan ekonomi paling bawah
Miskin: mengatasi kemiskinan struktural.
Ibnus Sabil (Musafir): perlindungan terhadap mobilitas manusia dan perdagangan.
Muallaf: mendukung stabilitas sosial dan ekonomi.
Aspek Operasional meliputi:
Amil: mendukung infrastruktur kelembagaan ekonomi syariah.
Riqab (Leadership): penghapusan perbudakan adalah bentuk awal dari ekonomi berbasis kebebasan dan keadilan. Membebaskan orang dari ketergantungan ekonomi menjadi mandiri.
Gharimin (orang berhutang): penanganan krisis individu akibat beban utang yang bisa melumpuhkan produktivitas.
Fii Sabilillah (Activist) : membiayai segala hal untuk kebaikan umum (bisa termasuk pendidikan, kesehatan, dakwah, pemberdayaan ekonomi).
Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 60)
III.Pilar Kaderisasi dan Pendidikan (تربية)
Kami percaya bahwa perubahan besar dimulai dari satu benih kecil: ilmu. Pilar pendidikan adalah jalan kami untuk melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tapi juga tangguh secara spiritual dan mulia secara akhlak. Dari madrasah hingga majelis ilmu, dari pesantren hingga pelatihan keterampilan—kami menanamkan nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
“Bangsa yang tercerahkan adalah bangsa yang belajar.”
1. Sejatinya Manusia adalah Pemimpin Peradaban
Manusia merupakan makhluk yang memiliki banyak kepentingan demi mempertahankan eksistensinya. Ada harta, pengaruh dan seksualitas. Itulah mengapa ia selalu memiliki kecenderungan untuk saling merusak dan bertumpah darah.
Atas dasar kecenderungan tersebut Allah menurunkan Al-Quran yang kelak membimbing hamba-hambanya untuk memimpin manusia di jalan kebenaran.Pendidikan dan Kaderisasi Islam menghidupkan potensi kader dan siswa agar cakap dalam menjalankan amanah kepemimpinan dibawah perintah Allah SWT.
Menjadi Pemimpin Peradaban. Manusia-manusia yang menyadari peran ilahiah mereka — untuk memimpin dan membangun peradaban dunia dengan nilai-nilai Allah.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’ Mereka berkata: ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang akan merusak dan menumpahkan darah di sana, sementara kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah: 30)
2. Kaderisasi adalah Keniscayaan
Agama Islam tidak bergantung pada individu, tetapi bergantung pada generasi yang siap memikul amanah. Segala penyimpangan yang terjadi disetiap masa selalu mendapatkan Azab dari Allah SWT. Setelah Azab menghabisi suatu kaum, maka Allah mengganti generasi lama yang menyimpang dengan generasi baru yang lebih baik.
Pendidikan dan Kaderisasi tidak hanya berfungsi sebagai penyaring serta penyiap generasi yang siap menggantikan mereka yang lalai atau menyimpang. Namun, juga salah satu perjuangan yang harus diupayakan oleh setiap generasi sebagai bentuk keseriusan dalam memimpin peradaban dan menyerahkannya pada tangan yang tepat.
“Jika kalian tidak berangkat (berjuang), niscaya Allah akan mengazab kalian dengan azab yang pedih, dan menggantikan kalian dengan kaum yang lain, dan kalian tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(QS. At-Taubah: 39)
3. Proses Perjuangan adalah Intisari Pendidikan
Apatisme dan kemalasan adalah penyakit kaderisasi. Kecintaan dunia adalah penghalang utama lahirnya generasi pejuang. Kader tidak boleh sibuk dengan kenyamanan, tapi harus siap menanggung beban perjuangan. Jika kita tidak ambil peran, Allah akan pilih orang lain. Maka jangan sia-siakan kesempatan menjadi bagian dari perjuangan.
Dalam pendidikan kader, mental “menunggu perintah” harus diganti menjadi “Apa yang bisa saya bantu?”
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berangkatlah (untuk berjuang) di jalan Allah,’ kalian merasa berat dan ingin tinggal di tempat? Apakah kalian lebih menyukai kehidupan dunia dibandingkan akhirat? Padahal kesenangan hidup dunia itu hanyalah sedikit dibandingkan dengan (kesenangan) akhirat.” (QS. At-Taubah: 38)
4. Karakteristik Ideal Seorang Kader
Kaderisasi dan Pendidikan Ideal dalam Al-Ittihadiyah harus dimulai dari penanaman tauhid dan cinta kepada Allah, bukan sekadar keterampilan teknis. Melatih kader untuk dapat memahami ukhuwah, empati, dan solidaritas internal umat. Namun, untuk menjadi pemimpin ia juga harus memiliki mental kuat, berani, dan tidak mudah tunduk kepada tekanan sistem atau budaya yang merusak. Hasil dari Kaderisasi dan Pendidikan adalah mencetak pejuang, bukan penonton, yang aktif menyebarkan kebaikan dan melawan kebatilan.
Kaderisasi dan Pendidikan yang benar akan melahirkan kemerdekaan dan keberanian pada Kader.
“Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela..” (QS. Al-Mā’idah: 54)
Al Ittihadiyah Bergerak: Dari Masjid ke Peradaban Ekonomi, Dari Sekolah ke Negara
Dengan tiga pilar da’wah ini, Al Ittihadiyah bukan hanya bicara—kami bekerja. Bukan hanya mengajak—kami menjemput. Bukan hanya menyentuh langit—kami menapakkan kaki di bumi.
Mari bergandengan tangan. Jadilah bagian dari dakwah yang hidup, dinamis, dan solutif.
Al Ittihadiyah, Dakwah yang Membumi, Perubahan yang Menyala.
KH. Nuruzzaman
Ketua Umum Al Ittihadiyah

